Minggu, 28 September 2008

Berbagi Gembira dengan Anak Yatim

Di tengah teriknya matahari pada Sabtu, 27 September 2008, dengan menahan godaan melaksanakan ibadah puasa terutama di akhir-akhir Ramadhan, Tim Kampung Nyalawati Fondation berangkat dari Jakarta menuju Kampung Nyalawati, Ciseeng, Bogor. Selepas Parung, kami harus berjuang ekstra keras dan penuh kehati-hatian melewati cadasnya jalanan kampung.
Sepanjang perjalanan, kami melihat pemandangan yang terasa gersang karena lama tidak disiram hujan. Sekitar jam 13.30 kami sampai juga di Kampung Nyalawati. Tidak berlama-lama, kami pun segera menyiapkan paket-paket santunan yang akan dibagikan kepada anak-anak yatim. Alasannya, kami harus segera balik ke Jakarta karena masih ada acara lainnya.

Berikut ini gambar-gambar dokumentasi santunan yang kami lakukan Sabtu kemarin. Meski begitu, kami masih merasa ada yang kurang karena memang jumlah donasi yang kami bagikan tidak terlalu banyak.
















Langkah Kecil untuk Perubahan

Pertama-tama tentu saja kami ingin mengucapkan terima kasih atas hadirnya teknologi blogging yang familiar, simpel dan tentu saja murah meriah. Teknologi ini pula yang memungkinkan pendokumentasian kegiatan-kegiatan Yayasan Kampung Nyalawati mulai tertata rapi. Kami tidak ingin pamer atau riya’. Kami hanya mengabarkan sedikit kontribusi dan syukur-syukur menginspirasi dan mengajak kepada semakin banyak pihak melakukan hal yang sama, atau malah lebih baik lagi.


Rumah Sangat Sederhana. Mayoritas rumah di Kampung Nyalawati masih sangat jauh dari ideal. Rumah seperti tampak di atas, misalnya, yang terbuat dari dinding bambu dan tidak berplester, dihuni oleh 14 orang. Fungsi MCK (mandi, cuci, kakus) pun seringkali terpisah-pisah jauh di luar rumah.

Yayasan Kampung Nyalawati sendiri terus terang belum memiliki kekuatan hukum sebagaimana Yayasan pada umumnya. Keterbatasan biaya dan tempat sekretariat masih menjadi kendala utama. Di samping itu Yayasan Kampung Nyalawati, sebagaimana kami biasa menyebut, juga masih sebatas gerakan yang kami lakukan di sela-sela rutinitas kerja para pegiat yang ada di dalamnya. Maklum, kami-kami masih menjadi pegawai kantoran yang terikat dengan jam kantor, Senin-Jum’at dan jam 8-16.

Toh demikian, ini tidak kami pandang sebagai alasan yang menyurutkan semangat untuk terus memberi kontribusi meskipun sekecil apa pun yang kami berikan, namun itu jelas sangat diharapkan oleh para anak Yatim-Piatu yang ada di Kampung Nyalawati. Kampung Nyalawati adalah bagian dari Desa Karihkil, Ciseeng, Bogor.

Tempat ini berjarak sekitar 35 Km dari Jakarta, 1,5 jam perjalanan yang 4 Km terakhirnya harus ditempuh dengan berjuang keras melawan buruknya prasara jalan. Jalanan belum teraspal dan hanya ditebar batu-batu koral yang itupun tidak tertata rapi. Justru batu-batu tersebut dengan ujungnya yang tajam, bisa mengancam ban-ban kendaraan yang melintas di atasnya.

Sebagian besar masyarakat Kampung Nyalawati bekerja di sektor non formal. Istilah lainnya, banyak pengangguran dan sebagian lagi merantau ke tempat lain karena tidak tergarapnya potensi desa dengan dalih ketiadaan modal dan sumber daya manusia serta informasi yang cukup. Belum ada instansi yang benar-benar serius menyentuh kampung ini. Entah, warga Kampung Nyalawati pun tak tahu lagi harapan kepada siapa lagi yang bisa digantungkan untuk menatap hari depan yang cerah.